Sebanyak 69% dari jumlah wisatawan menyatakan mereka tidak akan mempertimbangkan bepergian jika mengharuskan karantina selama 14 hari.
Secara tidak langsung, tindakan karantina menjadi bagian dari pembatasan perjalanan pasca-pandemi.
Alexandre de Juniac, CEO dan direktur umum IATA mengatakan, dengan cara seperti ini banyak orang akan memilih untuk tinggal di rumah.
Menurutnya, tindakan karantina selama 14 hari membuat perjalanan menjadi tidak praktis.

Pesawat milik maskapai penerbangan Citilink
"Untuk melindungi penerbangan, untuk memulihkan perekonomian, kita tidak boleh membuatnya semakin memburuk," ujar Juniac.
Ia melanjutkan, "Saat ini kita membutuhkan solusi untuk bepergian dengan aman dengan mengatasi dua tantangan."
"Pertama, wisatawan harus diberikan kepercayaan diri untuk melakukan perjalanan dan tindakan karantina 14 hari membuat wisatawan tidak percaya diri."
"Ini harus memberikan kepercayaan diri kepada penumpang untuk melakukan perjalanan dengan aman dan tanpa kerumitan," kata Juniac.
"Kedua, harus memberi kepercayaan pada pemerintah bahwa wisatawan terlindung dari virus," lanjutnya.
(Tribun Travel)