Metode 'cuci otak' ini dilakukan untuk membersihkan plak yang menyumbat pembuluh darah yang biasanya berupa lemak.
Nah, melalui metodenya yang menggunakan obat heparin, Terawan mengklaim mampu menghancurkan plak tersebut.
Obat ini ini akan dimasukkan melalui kateter yang dipasang di pangkal paha pasien, untuk selajutnya menuju sumber penyumbatan atau penyempitan.
Untuk mendapatkan metode pengobatan ini, pasien perlu menyiapkan dana sekitar 30 juta rupiah dalam sekali penanganan.
Bahkan sosok jurnalis senior Mayong Suryo Laksono seperti yang dilansirMajalah Intisari juga sempat mencoba metode pengobatan ini.
Mayong sendiri mengungkapkan kesan-kesannya setelah menjalani perawatan metode 'cuci otak' yang dicetus oleh dr. Terawan Agus Putranto ini.
"Saya menjalani DSA bukan karena stroke, tentu saja tidak ada bukti empiris bahwa saya telah sembuh dari sakit.
Mata saya juga tidak minus sehingga saya tidak merasakan pengurangan minus. Tapi saya merasakan pikiran lebih fokus.
Rasa pening tak ada lagi kecuali kalau terlambat makan," tulis Mayong.
Meski tuai pujian dan sambutan positif, ternyata metode pengobatan ini justru dikecam oleh IDI.