Masih ada pula praktik ketimpangan gender dalam perusahaan ini. Di level manajemen, jumlah pegawai laki-laki lebih banyak.
Namun khusus buruh level bawah malah sebagian besar adalah perempuan.
Pabrik ini khusus memproduksi boneka tokoh Ariel dan mereka sedan mengejar target produksi hingga Natal tiba.
Baca Juga : Viral Rumah Batu di Wonogiri, Jawa Tengah: Dari Luar Terlihat Biasa Saja tapi Bagian Dalamnya Megah
Sebuah temuan yang mengejutkan, tiap pekerja hanya mendapat upah 1 penny atau setara dengan Rp 185 untuk tiap boneka yang mereka produksi.
Padahal harga jual boneka ini sekitar 35 poundsterling atau Rp 648 ribu.
Nasib buruh di pabrik Wah Tung sangat memprihatinkan. Dalam kondisi terburuk, mereka hanyad apat 2.000 yuan atau Rp4,23 juta dan dalam kondisi baik mereka dapat 3.000 yuan.
Jumlah itu terbilang sangats edikit jika dibandingkan gaji rata-rata pekerja di China yang sebesar 7.000 yuan atau sekitar Rp 14,8 juta.
Pabrik Wah Tung bahkan punya aturan jam masuk yang cukup aneh. Karyawan wajib datang 10 menit sebelum jadwal kerja mereka.
Dengan jam kerja yang panjang dan melelahkan, tak heran banyak pekerja Wah Tung yang memilih tidur saat jam istirahat tiba.
Para pekerja mengekuhkan kondisi kesehatan mereka yang terus menurun seperti pusing dan penglihatan menjadi buram karena melakukan hal sama berulang kali.
Namun mereka juga tak bisa berbuat banyak, sebab mereka butuh pekerjaan ini. Mereka hanya berharap pabrik-pabrik di China bisa lebih manusiawi dan memberi mereka hak yang lebih baik sebagai karyawan.