Menurut Prabowo, istilah itu digunakannya untuk menunjukkan rasa empati dan solidaritas atas permasalahan yang dialami masyarakat.
Prabowo mengatakan, permasalahan terkait ketimpangan atau kesenjangan sosial masyarakat saat ini semakin lebar.
Sementara kekayaan nasional hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Baca Juga : Ibu Denny Sumargo Sempat Tak Restui Hubungan Anaknya dengan Dita Soedarjo: 'Takut Denny Diremehkan Istri'
Kritik atas ketimpangan sosial itu disampaikannya dalam bentuk kelakar "tampang Boyolali" agar audiens yang mendengarkan pidatonya tidak merasa mengantuk dan bosan.
"Kalau kita tidak boleh melucu, enggak boleh seloroh, enggak boleh joking, enggak boleh bercanda, ya bosan. Tidurlah nanti semua audiens, capek, kasihan. Saya kira begitu maksud saya," ujar Prabowo.
Saat pertemuan dengan tim pemenangan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018), Prabowo membahas tentang akses kesejahteraan yang menjadi agenda besar timnya.
Adapun salah satu topiknya membahas tentang peningkatan kapasitas produksi karena menurut data yang mereka terima, terjadi penurunan kesejahteraan di desa.
Dalam isi pidato di hadapan tim pemenangan, Prabowo menyebutkan istilah "tampang Boyolali" yang menjadi viral dan perbincangan publik.
Bunyi pidatonya sebagai berikut: "...Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini." (Kristian Erdianto)Artikel ini telah tayang diKompas.comdengan judul "Prabowo Minta Maaf jika Ada yang Tersinggung dengan "Tampang Boyolali"".