Rudal balistik tersebut diklaim bisa melaju hingga 10 kali kecepatan suara, dan dalam video diperlihatkan Kinzhal menghantam target latihan di selatan Rusia.
Presiden Vladimir Putin menyatakan Kinzhal bisa menempuh jarak lebih dari 2.011 kilometer sambil membawa hulu ledak biasa maupun nuklir.
Dalam pidatonya di Valdai Club Oktober lalu, Putin mengklaim Rusia telah melewati rivalnya dalam hal pengembangan senjata hipersonik.
Baca Juga : Inilah Jenis-jenis Senjata yang Dimiliki KKB Egianus Kagoya si Pembantai Pekerja Trans Papua
"Tidak ada yang punya rudal hipersonik akurat. Mereka mungkin baru menggelar tes dalam 18-24 bulan. Namun kami sudah mempunyai yang sudah jadi," terangnya.
Jika Kinzhal diklaim sudah bertugas, AS masih sibuk menyempurnakan senjata hipersoniknya.
April, Pentagon mengumumkan kesepakatan dengan pabrikan Lockheed Martin.
Kesepakatan itu adalah pengembangan senjata konvensional hipersonik untuk angkatan udara, dan bernilai 928 juta dollar AS, atau Rp13,4 triliun.
Empat bulan kemudian, Pentagon mengganjar Lockheed kontrak bernilai 480 juta dollar AS, sekitar Rp 6,9 triliun, untuk mendesain senjata hipersonik kedua.
Selain itu, Washington ini juga fokus mengembangkan teknologi yang bisa menetralkan senjata hipersonik, dan dinamai Glide Breaker. (Ardi Priyatno Utomo)
Baca Juga : Diragukan Kekuatannya, Kotak Suara dari Karton Diuji dengan Diinjak dan Disiram Air
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:"AS Disebut Tak Bisa Melawan Senjata Hipersonik Milik Rusia".