Gempar Kartu Surga, Selamat Dunia-Akhirat hanya dengan Rp 250 Ribu, Simak Pengakuan Warga yang Pernah Memperolehnya hingga Pandangan Sosiolog Agama

Senin, 11 November 2019 | 11:00
Kolase ABC News

Gempar Kartu Surga, Selamat Dunia-Akhirat hanya dengan Rp 250 Ribu, Simak Pengakuan Warga yang Pernah Memperolehnya hingga Pandangan Sosiolog Agama

Suar.ID -Warga Kabupaten Goa, Sulawesi Selatan digemparkan dengan kabar ditangkapnya seorang pemimpin tarekat.

Penangkapan tersebut terjadi lantaran sang pemimpin tarekat dilaporkan membagi-bagikan 'kartu surga'.

Dengan sepotong kartu surga dianggap dapat menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Kartu surga dibagikan kepada ratusan jamaat dalam organisasi keagamaan Tarekat Ta'jul Khalwatiyah Syech Yusuf di Kabupaten Gowa.

Baca Juga: Bak Petir di Siang Bolong, Pekerjaannya Hanya Penjual Sepatu Keliling, Nama Edi Dicatut sebagai Pemilik 3 Mobil Mewah, Kini KJP Anaknya Diblokir

Pemimpin tarekat, Puang La'lang, dilaporkan telah diamankan oleh pihak kepolisian lantaran menjanjikan keselamatan dunia-akhirat kepada para pengikutnya.

Tersangka diberi pasal berlapis atas dugaan penistaan agama, seperti dilaporkan Tribun Gowa, (5/11/2019).

Seorang warga setempat, Muhammad Rasdin Adam, menceritakan pengalamannya saat mendapatkan kartu surga, sementara seorang sosiolog agama berpendapat perihal fenomena tersebut kepada ABC News, Minggu, (10/11/2019).

(Tribun Timur / Ari Maryadi)
(Tribun Timur / Ari Maryadi)

Tersangka Puang Lalang, pemimpin aliran Tarekat Tajul Khalwatiyah Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ( Sulsel ) saat dihadirkan pada rilis kasus penistaan agama, di Mapolres Gowa, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel, Senin (4/11/2019).

Berawal dari Ibadah Shalat Jumat

Adam pada awalnya tak sengaja menemukan masjid pimpinan Puang La'lang di Dusun Tamalate, Desa Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ia menemukan masjid tersebut sekitar sebelas tahun yang lalu.

Baca Juga: Ingin Untung Malah Buntung, Ikuti Ritual Mencari 28 Batu, Uang Cash Rp 700 Juta Milik Pria asal Blitar Berubah jadi Potongan Kertas

Saat itu, Adam mengaku sedang hendak mencari masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jumat.

"Saya hanya kebetulan lewat situ pas hari Jumat, jadi saya mampir di masjidnya."

"Saya mampir karena saya lihat banyak jamaah, saya juga heran 'kok masjid kecil ini banyak jamaah sampai ratusan?', saya mampir sholat."

Adam mengakui bahwa tak ada yang berbeda dari tata cara beribadah sholat di masjid tersebut.

Namun demikian ia merasa ada yang berbeda kala mendapati sholat Jumat dilakukan tanpa pengeras suara, layaknya masjid pada umumnya.

Baca Juga: Hubungan Anak dan Ayah Sambung ini Sempat Buruk hingga Pernah di Blok di Instagram, Kini Azriel Hermansyah dan Raul Lemos Nampak Sumringah, Sudah Rukun Ya?

Usai menjalankan ibadah sholat Jumat, Adam dihampiri oleh seorang pengurus masjid.

Dirinya ditanya apakah orang baru atau tidak di lingkungan tersebut.

Ia juga ditanya apa tujuannya singgah di masjid tersebut.

Adam kemudian diajak berbincang lebih lanjut usai ditanya dua hal sapaan tersebut.

Di sinilah kemudian Adam menemukan ada keanehan.

Ia mengakui merasa tertarik menelusuri sesuatu yang membuat keingintahuannya timbul.

Adam menyatakan diberi tahu bahwa di tempatnya ia beribadah merupakan salah satu perguruan.

"Obrolannya itu bahwa di sini itu salah satu perguruan, dipimpin seorang Mahaguru."

"Namanya Mahaguru itu Puang La'lang. Kebetulan saya memang pernah dengar namanya tapi sama orangnya sendiri belum pernah ketemu. Jadi niatan awal, saya ingin kenalan, begitu saja," kata Adam kepada ABC News melalui sambungan telepon.

Baca Juga: Enggan untuk Lepas dari Sorotan Publik, Barbie Kumalasari Blak-blakan Rela Lakukan Settingan: Dunia Showbiz Kan Harus Selalu Ada Pemberitaan

Selamat Dunia-Akhirat

Adam menceritakan bahwa orang yang mengajaknya bicara mengatakan padanya bahwa setiap anggota di tarekat tersebut akan selama dunia-akhirat.

"Saya justru jadi ingin tahu, selamat dunia akhirat itu bagaimana ya?", tutur Adam.

Beberapa lama setelah perbincangan, ia melihat sosok yang dianggap sebagai 'Sang Mahaguru' terlihat naik mimbar untuk menyampaikan ceramah.

Pada momen ini, Adam merasa semakin heran.

"Ceramahnya itu yang menurut saya tidak masuk akal, habis sholat Jumat dianjurkan sholat Dhuhur dan sholat Ashar, digabung lagi, itu kan aneh. Tapi saya tidak lakukan, kan saya sudah sholat Jumat," kata Adam.

Baca Juga: Waduh! Heboh Penemuan Kamera di Toilet Mahasiswi UIN, Baru Ketahuan Padahal Dipasang Berbulan-Bulan Lalu

Dibaiat Menjadi Anggota

Semakin penasaran, Adam kemudian memutuskan untuk ikut acara pertemuan jamaah tarekat tersebut di minggu berikutnya.

Adam mengakui bahwa total telah diadakan 4 kali pertemuan dalam satu bulan yang ia ikuti.

Pada puncak pertemuannya, dirinya mengaku sempat dibaiat menjadi anggota tareket.

Proses baiat yang dialaminya ia ceritakan kepada ABC News.

"Jadi dalam kamar tidurnya itu, kita antri satu-satu masuk, jadi lain kita masuk untuk dibaiat, lain (pintu) untuk keluarnya."

"Jidat kita itu ditulisi lafadz Allahu Akbar."

"Lalu di pintu keluar, berdirilah si Puang La'lang. Jadi semua jamaah saya lihat jabat tangan, kasih uang, begitu."

Ditawari Kartu Surga

Setelah melalui proses baiat, Adam juga ditawari kartu surga oleh satu orang anggota tarekat tersebut.

Adam mengaku diharuskan membayar Rp 250 ribu untuk mendapatkan kartu surga tersebut.

"Kartu surga itu disampaikan oleh salah satu anggota bahwa harus bayar 250 ribu, tapi saya enggak bayar. Saya dikasih kartu dunia-akhirat itu ya saya ambil tapi enggak bayar."

"Tulisannya tulisan bahasa arab semua. Waktu saya dikasih ya bilangnya itu kartu supaya selamat sampai surga."

Baca Juga: Sambil Bergetar Nenek Ini Tak Tahu Kalau Sedang Ditipu Minta Pulsa Rp500 Ribu, Netizen: Laknat Sekali Perbuatannya!

Beda Orang Beda Harga

Adam mengakui bahwa harga kartu surga tersebut berbeda saat ia mendengar ucapan dari pemimpin tarekat, Puang La'lang.

Diakuinya usai mendengar ucapan Puang La'lang bahwa kartu surga tersebut dapat ditebus seharga Rp 10-50 ribu.

Di sini ia merasa kebingungan lantaran dimintai harga di awal sebesar Rp 250 ribu.

Baca Juga: Anaknya Tewas Diracun Jessica Wongso, Sosok Ini Baru Saja Menikah dengan Gadis Muda nan Cantik, Begini Sindiran Hotman Paris

Sang Pemimpin Telah Ditangkap Polisi

Belasan tahun berlalu, kini Adam baru mengetahui bahwa pemimpin tarekat tersebut yang dianggap sebagai 'Sang Mahaguru' yang pernah ia temui telah resmi ditangkap polisi.

Pihak kepolisian melakukan tugasnya setelah adanya laporan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gowa, pada September lalu.

Konferensi Pers Polres Gowa

Setelah dilakukan penyelidikan pada minggu ini, Kepolisian Gowa menggelar konferensi pers dengan menampilkan barang bukti yang telah disita dari kediaman Puang La'lang yang berumur 74 tahun.

"Ada beberapa dugaan pasal yang disangkakan kepada bapak PL, yang pertama tentunya adalah dugaan penistaan agama, kemudian diduga juga melakukan penipuan penggelapan," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Gowa, Kompol Muhammad Fajri, kepada ABC, (7/11/2019).

Kompol Fajri menerangkan bahwa telah memeriksa 26 saksi di mana 2 di antaranya adalah saksi ahli.

"Sudah ada 26 saksi yang telah dimintai keterangan oleh penyidik, dua di antaranya merupakan saksi ahli. Ada pula 317 lembar kartu Wipiq (kartu surga) yang diamankan." kata Kompol Fajri.

Dilansir oleh Kompas.com, polisi menjerat tersangka Puang Lalang menggunakan pasal berlapis, mulai dari Pasal 156 a KUHP dan atau Pasal 378 KUHP.

Kemudian Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 3,4,dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 dan atau UU Nomor 22 Tahun 1946.

Ancaman hukumannya 5 hingga 20 tahun penjara.

Baca Juga: Batal Jadi Menteri Jokowi, Kini Agus Yudhoyono Ubah Tampilan dan Pelihara Brewok, Bagaimana Komen Sang Istri?

Laporan MUI Gowa ke Kepolisian dan Dinyatakan Sesat

Abubakar Paka, selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gowa menyatakan melaporkan temuannya ke kepolisian.

Hal tersebut bermula saat lembaganya mendapat informasi dari warga tentang suatu perkumpulan atau tarekat Islam yang dianggap 'lain'.

"Mereka meyakini bahwa masih ada ayat di luar 30 juz yang telah diyakini dalam Al-Qur'an," kata Abubakar Paka kepada ABC News.

Berdasarkan informasi ini, MUI Gowa kemudian berinisiatif untuk melakukan investigasi secara mendalam dan menemukan fakta yang serupa dari laporan warga.

Tim investigasi MUI kemudian membuat himbauan berulang hingga sempat mengeluarkan fatwa perihal organisasi tersebut pada tahun 2016.

Sempat pula dilakukan mediasi, dan namun kemudian diakhiri dengan laporan ke polisi pada tahun ini.

Dilansir oleh Tribunnews.com, (6/11/2019), aliran yang dipimpin Puang La'lang ini juga dinyatakan sesat oleh MUI.

Hal tersebut tertuang dalam Fatwa MUI bernomor Kep 01/MUI-Gowa/XI/2016 tanggal 9 Nopember 2016.

Rekomendasi Pembubaran Tarekat

Dilansir oleh Tribun Timur, (7/11/2019), Bupati Gowa, Adnan Purcihta Ichsan Yasin Limpo telah mengeluarkan surat rekomendasi tentang pembubaran Tarekat Tajul Khalwatiyah Syekh Yusuf.

Saat mengungkap kasus ini, polisi turut menyita barang bukti sebanyak 138 buah dari kediaman Puang Lalang serta yang dikumpulkan Majelis Ulama Indonesia atau MUI Kabupaten Gowa.

Baca Juga: Selain Bagi Cara Memuaskan Istri-istrinya, Lora Fadil Juga Buka-bukaan Pernah Punya 4 Istri, tapi karena Hal Ini Istri Keempatnya Dicerai

Pendapat Sosiolog Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Seorang ahli sosiologi agama dan juga guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Profesor Al Makin berpendapat bahwa kelompok-kelompok seperti tarekat milik Puang La'lang tergolong kelompok keagamaan baru.

Menurut Al Makin, kartu surga disebut menjadi andalan tarekat tersebut lantaran dapat menarik banyak pengikutnya.

Al Makin menambahkan bahwa terdapat faktor karakteristik dasar dari orang Indonesia.

"Orang Indonesia ini dari dulu wataknya memang religius, terutama orang Jawa dan orang Bugis, orang Minang religius, apalagi orang Aceh. Dan tidak hanya dalam hal Islam, pada umunya masyarakat Indonesia ini religius." ujar Al Makin.

Al Makin berpendapat bahwa upaya kritik terhadap agama di Indonesia selalu gagal.

Menurutnya, agama selalu menjadi amunisi para politisi yang kemudian ditanggapi dengan antusias oleh masyarakat.

Al Makin menyebut daerah Sulawesi dan sekitarnya termasuk hotspot.

"Dan Sulawesi atau masyarakat Bugis dan sekitarnya itu termasuk hotspot."

"Hotspot kemunculan para nabi, para orang-orang yang mengaku nabi, itu orang-orang Bugis sangat kuat, sama dengan masyarakat Jawa dan Sunda, itu juga sama-sama kuat."

"Kenapa? mungkin karena religius. Selama kita masih religius ya itu akan muncul terus," ujarnya kepada ABC.

Menurut Al Makin, tuduhan penodaan agama sering dipakai dalam menghadapi kelompok-kelompok seperti pimpinan Puang La'lang.

Al Makin menilai bahwa pendekatan yang digunakan bukanlah 'dituduh menyesatkan', melainkan 'diberi edukasi'.

"Itu enggak bisa disesat-sesatkan, itu pendekatan yang enggak tepat menurut saya. Pendekatannya adalah edukasi, pendidikan. Sesat-menyesatkan itu bukan solusi, itu justru menjadi bumerang itu."

"Itu sekali lagi tidak menghargai kebebasan beragama, tidak menghargai kreativitas." katanya.

Menurut Al Makin, Indonesia tidak akan pernah berhenti melahirkan tokoh keagamaan (dalam hal ini ia sebut sebagai Nabi).

Menurutnya (yang mengacu pada studi terbarunya) bahwa ia telah menemukan sekitar 1300 kelompok keagamaan yang serupa seperti tareket di Gowa.

"Berarti kan 1300 total kalau masing-masing ngaku ada nabi. Mau di fatwa apapun enggak bisa berhenti."

"Satu-satunya cara adalah dengan dipahami, kenapa mereka muncul, dipelajari, dan juga edukasi kepada masyarakat. Kalau disesat-sesatkan mereka tambah senang."

Al Makin berpendapat bahwa 1300 kelompok keagamaan baru ini memiliki persamaan kreativitas.

Menurutnya, kreativitas yang dimaksud adalah keberanian mereka memadukan banyak ajaran, terutama ajaran tradisi lokal.

"Kita ini kan kaya sekali tradisi lokalnya. Bahasa kita banyak, tradisi kita banyak. Nah para Nabi baru ini biasanya memadukan hal yang lebih baru lagi."

"Mereka juga punya karakteristik yang sama dalam ilmu sosiologi yaitu keberaniannya memadukan suasana lokal dengan tantangan zaman yang saat ini ada."

Al Makin berpendapat bahwa dalam agama mapan seperti Islam, Kristen, dan Hindu banyak sekali ruang kreativitas yang tertutup karena sudah ada ortodoksi.

Hal tersebut menurutnya membuat usaha interpretasi menjadi kecil.

"Sementara para Nabi kita, orang-orang yang mengaku Nabi, mengaku mendapat wahyu dan mendirikan kelompok baru, mereka ini punya daya kreativitas yang tidak mungkin diwadahi oleh kelompok yang sudah mapan."

"Makanya mereka memilih jalan mendirikan sesuatu yang baru." kata Al Makin.

Al Makin berpendapat bahwa pendekatan dalam menyikapi fenomena tersebut adalah dengan adanya edukasi.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

Artikel ini telah tayang di TRIBUNNEWSWIKI dengan judul Heboh Kartu Surga Rp 250.000 Janjikan Dunia-Akhirat, Sosiolog: Perlu Edukasi, Bukan Disesat-sesatkan

Editor : Rina Wahyuhidayati

Sumber : Tribunnewswiki

Baca Lainnya