Suar.ID - Tragedi Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, menewaskan setidaknya 149 orang.
Korban mayoritas berjenis kelamin perempuan ini tewas dalam kerumunan besar di kawasan Itaewon, pada Sabtu (29/10/2022) malam.
Mereka meninggal dunia karena terinjak-injak dalam kejadian nahas tersebut.Sebuah gang sempit di sebelah landmark Hotel Hamilton dipadati banyak pengunjung hingga kerumunan semakin tidak terkendali.
Banyak yang berdesak-desakkan hingga berjatuhyan.Situasi tak terkendali di gang ini semakin meningkat, mengingat lebarnya yang dilaporkan hanya sekitar empat meter dengan posisi sedikit miring (menanjak).
Para pengunjung pun terperangkap di antara kerumunan yang keluar dari hotel dan kerumuman dari pintu keluar 1 dan 2 stasiun kereta bawah tanah Itaewon.
Beberapa orang malam itu menunjukkan tanda-tanda mati lemas dan serangan jantung.
Kejadian tragis di hari Halloween ini ternyata bukan kali pertama.
Pada awal 1970-an, ada ketakutan nyata di hari Halloween.Media, departemen kepolisian, dan politisi mulai menceritakan jenis baru kisah horor di hari Halloween.
Hal yang paling menakutkat adalah tentang insiden "permen beracun".
Mengutip dari The New York Times, ada kemungkinan orang asing menggunakan tradisi "trick or treat" Halloween untuk meracuni anak-anak.
Tradisi ini biasanya dilakukan anak-anak dengan cara mengetuk pintu orang dewasa.
Para anak-anak akan memberikan pilihan "trik atau treat".
Trick untuk kenakalan sedangkan treat biasanya untuk permen.
Orang dewasa baisanya memberikan permen kepada anak-anak yang sudah memakai kostum di hari Halloween.Menurut laporan, ada insiden tentang anak yang keracunan permen di hari Halloween.
Seorang anak berusia lima tahun meninggal pada Halloween di Detroit setelah mengonsumsi heroin.
Laporan media pada pertengahan November 1970, menunjukkan bahwa anak itu sebenarnya menemukan heroin di rumah pamannya – bukan di dalam tas permen Halloween, seperti yang pertama kali diberitahukan kepada penyelidik.Namun pada 31 Oktober 1974, seorang anak lain meninggal di Houston.
Kali ini, kematiannya adalah akibat memakan permen beracun: Ayah anak itu telah membunuh putranya sendiri dengan memasukkan sianida ke dalam tongkat pixie.Kisah "permen beracun" di Houston ini dengan cepat menyebar.
Meskipun tidak ada buktinya, majalah Newsweek menegaskan dalam sebuah artikel tahun 1975 bahwa selama beberapa tahun terakhir, beberapa anak telah meninggal dan ratusan orang lolos dari cedera akibat pisau cukur, jarum jahit, dan pecahan kaca yang dimasukkan ke permen oleh orang dewasa.Pada 1980-an, beberapa komunitas melarang "trick or treat", sementara rumah sakit di beberapa wilayah metropolitan menawarkan permen X-ray Halloween.
Asosiasi orang tua-guru mendorong festival musim gugur untuk menggantikan Halloween, dan di Long Island sebuah kelompok masyarakat memberikan hadiah kepada anak-anak yang tinggal di rumah selama Halloween 1982.Pada tahun 1982 gubernur New Jersey menandatangani undang-undang yang mengharuskan hukuman penjara bagi mereka yang merusak permen.
Baca Juga: Cara Dapat Uang dari Internet dengan menjadi Penulis Freelance, Gampang Banget!