Suar.ID -Poniran, seorang pemudik asal Tangerang mengungkapkan pengalamannya melakukan isolasi mandiri di kampung halamannya.
Ia tak melakukan isolasi mandiri di rumah, namun ia mengisolasi diri di tengah kebun.
Bahkan ia sempat harus merayakkan ulang tahun sang anak hanya melalui video call.
Poniran yang tinggal di Kulon Progo, DIY ini rela isolasi mandiri di tengah kebun agar tak membahayakan keluarga.
Menjadi narasumber di acara Mata Najwa Trans 7 pada Rabu (29/4/2020), Poniran mengatakan, dirinya tak bisa melakukan isolasi mandiri di dalam rumah karena keterbatasan tempat.
"Iya betul ide saya sendiri, kan terus terang ada kedua orang tua, anak istri saya, ya saya yang harus mengalah."
"Karena memang keterbatasan tempat yang enggak ada, ya mau enggak mau," kata Poniran.
Poniran menuturkan dirinya mengaku sudah terbiasa tinggal di kebun.
Sehingga tidak masalah melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.
"Karena sejak kecil saya sudah di kampung ini kalaupun untuk adaptasi di manapun istilahnya di gubuk menurut saya sudah enggak ada masalah."
"Dan untuk kegiatan bercocok tanam, nyangkul, tani sudah pekerjaan saya sebelum saya bekerja di Tangerang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya jarak gubuk dengan rumahnya tidak terlalu jauh.
Sedangkan untuk kebutuhan makan, Poniran mengatakan sang istri biasanya mengantarkan makanan.
"Jadi sebenarnya jarak dari rumah sekitar 100 meter."
"Untuk masalah makan berbuka dan sahur dikirim sama istri, jadi ditaruh di tempat tertentu, di meja nanti saya ambil," ungkap dia.
Poniran mengaku bersyukur di kediamannya tinggal masih terjangkau sinyal internet hingga masih berkomunikasi dengan keluarga.
"Jadi Alhamdulillah meskipun tempatnya pelosok di Kulon Progo untuk hubungan video call, telepon enggak ada kendala."
"Jadi kalau saya butuh apa-apa tinggal ditelepon saja ke istri," ucap Poniran.
Ia mengatakan komunikasi memang hanya bisa dilakukan melalui internet.
"Iya soalnya kan enggak mungkin masak malam-malam mau teriak-teriak, di sinipun enggak ada penerangan lampu-lampu, kalau dusun kan jarak rumah itu jarang-jarang sekali," kata dia.
Lalu, ia membenarkan bahwa dirinya juga sempat melakukan video call saat sang anak berulang tahun.
Ia menjelaskan perayaan ulang tahun itu tak dihadiri banyak orang.
"Iya betul sekali jadi mereka, bukan merayakan banyak orang berkumpul bukan."
"Cuma anak saya, istri saya dan dua orang itu tetangga, jadi istilah berkumpul atau mengumpulkan masa itu juga bukan," ceritanya.
Baca Juga: Tantangan Jerinx SID untuk Disuntik Covid-19 ke Tubuhnya dengan Syarat Akhirnya Ditanggapi dr Tirta
Menanggapi cerita Poniran, Najwa Shihab lantas mengungkap kekagumannya.
Poniran menjawab, dirinya hanya tak mau ada anggota keluarga terkena Virus Corona.
Ia tak mau menciptakan masalah meskipun dirinya sudah dicek negatif Virus Corona.
"Saya kagum sekali sama Pak Poniran betul-betul teguh sampai di kampung pun, sudah sampai di rumah pun menjaga isolasi sendiri karena tidak mau menulari keluarga, jadi betul-betul disiplin, luar biasa loh Pak Poniran ini, inspirasi buat banyak orang loh Pak," ujar Najwa.
"Ya sebenarnya ini karena secara tidak langsung jika tidak melakukan isolasi terus amit-amit istilahnya satu keluarga kebetulan saya membawa virus malah kan jadi musibah besar," jawab Poniran.
Lihat videonya mulai menit ke-4:15:
Bukan Bermaksud Hiraukan Pemerintah
Pada kesempatan yang sama, Poniran mengatakan dirinya pulang kampung dengan menggunakan mobil pribadi.
"Saya pulang sejak tanggal 18 jadi sudah terhitung 11 hari, 12 hari besok. Saya mengendarai mobil pribadi," ujar Poniran.
Ia nekat pulang kampung lantaran pekerjaannya diliburkan selama dua bulan.
Selain itu, biasanya setiap sebulan sekali Poniran mengaku pulang ke kampung halaman.
"Jadi kan tempat saya bekerja libur selama dua bulan."
"Untuk itu saya sebagai kepala keluarga itu kan tulang punggung keluarga anak istri di kampung, setiap bulan kan saya rutinitas pulang," ungkap Poniran.
Mulanya, ia sudah meminta penjelasan kelurahan setempat di mana tempat karantina.
Karena pihak keluarga tak menyediakan, Poniran lantas berinisiatif membuat gubuk untuk dirinya melakukan isolasi mandiri.
"Berhubung pandemi jadi untuk rutinitas pulang saya siapkan tempat untuk isolasi mandiri, berhubung dari pihak kelurahan saya hubungi enggak menyediakan, saya inisiatif untuk membangun tempat karantina di kebun saya sendiri," ungkap dia.
Ia menegaskan nekat mudik bukan bermaksud menghiraukan pemerintah.
Namun, situasinya di Tangerang sungguh tidak memungkinkan untuk menetap.
"Pertimbangan saya kenapa saya mudik, bukan berarti saya tidak menghiraukan (red-menghiraukan) pemerintah."
"Cuma anak, istri, keluarga saya di kampung, sementara kalau di sana enggak kerja cuma istilahnya tidur makan, tidur makan enggak dapat apa-apa," katanya.
Di kampung, Poniran mengatakan bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam.
Poniran menegaskan selama isolasi mandiri, ia juga sendirian tanpa ada yang menemani.
"Sedangkan kalau saya dua bulan ada di kampung, pertama saya bisa bertemu keluarga yang kedua saya bisa mengolah hasil pertanian, dan selama dua bulan InsyaAllah akan memetik hasilnya."
"Ini sudah mulai bertani selama isolasi, jadi di tempat kebun itu saya benar-benar sendiri enggak ada siapa-siapa," ucapnya.
Poniran melanjutkan, dirinya tak bisa melakukan isolasi mandiri di dalam rumah karena keterbatasan tempat.
Baca Juga: Pentagon Resmi Rilis 3 Video UFO, Seperti Ini Ternyata Penampakannya
"Iya betul ide saya sendiri, kan terus terang ada kedua orang tua, anak istri saya, ya saya yang harus mengalah."
"Karena memang keterbatasan tempat yang enggak ada, ya mau ga mau," pungkasnya.
(Mariah Gipty)
Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul "Cerita Pemudik Isolasi Mandiri di Kebun dan Rayakan Ultah Anak Lewat Video Call, Najwa: Saya Kagum".