Sudah Cek Google Doodle Hari Ini? Selain Berbakat Rupanya Tokoh Sastra Indonesia Ini juga Menyimpan Kisah Hidup yang Tragis!

Sabtu, 29 Februari 2020 | 12:30
Google.com

Suar.ID -Ketika membuka laman www. google.com, Anda akan disodorkan dengan sosok seorang wanita berkacamata yang tengah menulis di atas secarik kertas berwarna hijau toska.

Wanita itu tampak telah selesai menuangkan pikirannya pada beberapa lembaran kertas berwarna lainnya.

Wajahnya diilustrasikan menggantikan huruf O pada logo Google.

Ia adalah Nurhayati Sri Hardinia Siti Nukatin (biasa dikenal N.H. Dini), seorang tokoh di bidang literatur dan novelis yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 29 Februari 1936.

Baca Juga: Dipindahkan ke Rutan Bareskrim Polri, Rupanya Seperti Inilah Penampakan Tersangka Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan

NH Dini sempat menikah dengan pria berdarah Perancis, Yves Coffin, pada 1960.

Pierre Coffin sendiri dikenal sebagai sutradara dari film franchise animasi populer Despicable Me.

NH Dini dan Yves memiliki dua anak bernama Marie-Claire Lintang Coffin dan Pierre-Louis Padang Coffin.

NH Dini wafat di tempat lahirnya pada 4 Desember 2018 (usia 82 tahun).

Baca Juga: 2,5 Tahun Lalu Novel Baswedan Disiram Air Keras, Kini Terduga Pelaku Berhasil Ditangkap, Begini Tanggapan Keluarganya: Ini Masih Awal Banget!

Perjalanan Hidup NH Dini

1. Raih Penghargaan Lifetime Achievment

Sastrawan senior sekaligus legenda hidup sastra Indonesia, NH Dini, menerima penghargaan Lifetime Achievement Award Ubud Writers & Readers Festival 2017 (UWRF).

Dini mendapatkan anugerah tersebut saat acara Gala Opening UWRF di Puri Saren Ubud, Bali, Rabu (25/10/17) malam.

Penghargaan tersebut terakhir kalinya diberikan kepada mendiang Sitor Situmorang pada 2010.

Penghargaan bergengsi tersebut adalah apresiasi dari UWRF bagi para tokoh sastra Indonesia yang telah berkiprah selama puluhan tahun dan sukses memajukan dunia sastra Indonesia.

"Saya sangat bahagia bisa mendapatkan penghargaan ini karena sebelumnya penerima penghargaan ini adalah almarhum Sitor Situmorang, seorang senior yang saya hormati," ujar NH Dini usai menerima trofi dari Janet DeNeefe, pendiri dan Direktur UWRF.

"Saya telah berkiprah di dunia sastra selama puluhan tahun dan merasa sangat terhormat saya masih diingat hingga saat ini," imbuhnya, dalam keterangan tertulis dari penyelenggara UWRF, Jumat (27/10/2017).

Baca Juga: Penyerang Novel Baswedan Berhasil Ditangkap Polri, Tim Advokasi Justru Temukan Kejanggalan Ini...

2. Kronologi kecelakaan yang merenggut nyawa NH Dini

Sebuah truk bernomor polisi AD 1536 JU tiba-tiba berhenti saat menanjak di tanjakan tol Tembalang.

Saat itu, mobil Toyota Avanza yang ditumpangi NH Dini tepat berada di belakang truk tersebut.

Saat pengemudi truk mencoba memperbaiki dan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba truk berjalan mundur dan menghantam mobil NH Dini.

NH Dini dan sopirnya mengalami luka di bagian kaki dan kepala.

Warga di sekitar lokasi segera membawa NH Dini dan sopir ke RS Elizabeth, Semarang.

Pada pukul 16.30 WIB, pihak rumah sakit menyatakan sastrawan senior asal Semarang, tutup usia.

"Diduga pengemudi truk tidak bisa mengendalikan laju kendaraan, lalu berjalan mundur."

"Truk kemudian membentur kendaraan yang ada di belakangnya," ucap Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi, Selasa (4/12/2018).

Baca Juga: Penyerang Novel Baswedan Ditangkap, Fadli Zon Berikan Tanggapannya: Ada Oknum-oknum yang Menutupi

3. Jual Aset Pilih Tinggal di Panti Jompo

Sejumlah keluarga dan kerabat almarhumah mulai mendatangi kamar Jenazah RS Elisabeth Kota Semarang, salah satunya keponakan NH Dini bernama Paulus Dadik.

Paulus mengaku terpukul atas meninggalnya sastrawan berusia 82 tahun itu.

Sosok NH Dini di keluarga besarnya dikenal begitu tekun dan mandiri.

Keluarganya sering memanggil NH Dini dengan panggilan sayang, eyang bibi.

"Terakhir kumpul itu dua bulan yang lalu. Beliau orangnya tidak mau merepotkan keluarganya."

"Dia menjual aset dan memilih tinggal di panti jompo," kata Paulus.

"Beliau ingin mandiri, tekun juga, dan saya lihat suka berkebun," tambahnya

Baca Juga: Pelaku Penyiram Air Keras Novel Baswedan Ditangkap, Polri Didesak Tak Berhenti Pada Pelaku Lapangan: Tidak Mungkin Pelaku Hanya Berhenti di Dua Orang Ini

4. Karya NH Dini

Kompas
Kompas

Semasa hidupnya, NH Dini dikenal dengan sejumlah karyanya yang dibumbui dengan topik kesetaran gender.

NH Dini percaya bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki.

Karya NH Dini lainnya bercerita tentang pengalaman hidupnya mengarungi bahtera rumah tangga.

Di dalam novel Pada Sebuah Kapal (1973), misalnya, NH Dini menulis tentang seorang perempuan bernama Sri yang memiliki pernikahan yang kurang bahagia dan lantas jatuh cinta terhadap seorang kapten kapal ketika ia berlayar.

Desain doodle NH Dini ini pun, seperti huruf "O" di dalam tulisan "Google" yang seakan menggambarkan jendela di dalam sebuah kapal, disebut terinspirasi dari buku Pada Sebuah Kapal.

Selain novel tadi, karya NH Dini lainnya yang sempat ia rampungkan berjudul Hati yang Damai (1961), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1985), dan masih banyak lagi.

Ada satu perkataan Dini yang turut diabadikan oleh Google.

Bisa jadi ini adalah pedoman hidupnya soal dunia sastra yang ia tekuni.

"Sastra sebenarnya adalah makanan bergizi untuk jiwa dan pikiran manusia.

Ini adalah fondasi dasar kemanusiaan, cerminan masyarakat, kehidupan sehari-hari, pengetahuan, dan nilai kebijaksanaan," begitu sekiranya perkataan Dini yang diingat Google, Sabtu (29/2/2020).

Selamat ulang tahun ke-84 NH Dini, semoga karyamu selalu hidup dan menginspirasi generasi sekarang dan generasi di masa yang akan datang.(Kompas.com)

Editor : Ervananto Ekadilla

Sumber : Kompas.com

Baca Lainnya